Yayasan Meseum Kota Juang Bireuen, Milad Ke IV Gelar Halal Bi Halal

Prov. Aceh58 views

Mabesnews.com l Bireuen – Pada 30 Maret 2025, Museum Kota Juang Bireuen, memasuki usia 4 tahun. Sejak keberadaannya setelah diresmikan oleh Bupati Kabupaten Bireuen, pada 30 Maret 2021.

Sekretaris Umum Yayasan Meseum Kota Juang Bireuen , Mahyani Muhammad dalam relisnya kepada media ini Kamis, 3 Maret 2025 menyebut, Museum yang hadir dalam sebuah pertimbangan sejarah, yang melekat hebat dengan perjuangan Bireuen di masa lalu , diperingati Miladnya yang ke-IV dan dengan rangkaian acara Halal Bi Halal dari para yang duduk dalam struktur kepengurusan Yayasan Museum serta para pewaris dari H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, di Bireuen pada Rabu 2 April 2025.

Milad ke-IV Museum yang dirangkai dengan Halal bi Halal keluarga besar Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, berlangsung khidmat, yang dihadiri oleh seluruh keluarga inti yang masih hidup, yang berada selaku cucu dari silsilah pewaris H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, yakni : Hj. Noor Balqis Marzuki; Hj Sri Wahyuni dan H. Ramli Ganie Usman; Hj. Irena Marzuki dan H. Yusni Gani Adam; Hj. Amalia Marzuki; Alim Mufid Marzuki dan Enny Juliana, Hj. Fitria Marzuki dan H. Ahmad Humam Hamid, H. Ahmad Yani Marzuki dan Tenti Warita Yulistinar.

Hj. Amalia Marzuki, Ketua Umum Dewan Pengurus, dalam sambutannya menyampaikan bahwa,‘

Kehadiran Museum Kota Juang Bireuen, merupakan hasil dari inisiasi seorang kakak Hj. Noor Balqis, yang berjiwa visioner, yang merubah warisan sebidang ‘lampoh jrat’, ( tanah kuburan)menjadi sebuah Museum berikut dengan duplikasi sebuah Pendopo Meuligo Bireuen di dalamnya.

Langkah kebijakan yang di-planning dan di-organizing, di-actuating dan di-controling dengan baik, lewat tangannya sendiri, sesuatu yang sangat bermakna, yang keberadaan Museum telah dapat dilihat dan dirasakan oleh masyarakat Bireuen.

Kehadiran Museum Kota Juang Bireuen berjalan dengan penuh perjuangan, bukan hadir dengan seketika secara sim salabin, namun dengan kegigihan dalam sentuhan raga dan pikirannya, berlangsung penuh dengan sikap istiqamahnya guna menjadikannya sebuah Museum Kota Juang Bireuen’.

Hj. Amalia Marzuki dalam lingkup lainnya menyebut, keberadaan Museum Kota Juang Bireuen, kini telah menjadi Icon atas keberadaan objek wisata alternatif di kota Bireuen, serta menjadi karya sebagai ungkapan rasa cinta, bangga dan hormat pada sosok kakek tercinta, H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey’, ucapnya.

Berbagai rangkaian kegiatan sejak peresmiannya Museum Kota Juang Bireuen, dengan segala variable bangunan lainnya, dapat dirasakan bermanfaat, dan hadir sebagai pengabdian para pewaris tokoh terbaik di masa sebelum dan setelah kemerdekaan, untuk dapat dirasakan oleh masyarakat Bireuen, khususnya dalam harapan pada generasi mendatang, untuk lebih mengenal seorang tokoh legendaris dari Bireuen dimasa lalu.

Disebutkan, disamping menjadi langkah untuk mengikat hubungan silaturrahmi bagi seluruh pewaris secara internal maupun dalam hubungan pewaris dengan masyarakat umum.

Museum Juang Kota Bireuen, telah mengabadikan catatan peran dari 27 Tokoh Bireuen, dengan penerbitan buku pada Maret 2021, yang keberadaan mereka tampak dari berbagai lingkup dan peran keberadaannya, yang mewakili para ulama, cendekiawan, pejuang, pengusaha, budayawan, seniman dan olahragawan.

Sejak peresmiannya pada 30 Maret 2021 sampai dengan 30 Maret 2025, Museum Kota Juang Bireuen telah dikunjungi oleh 5.670 pengunjung. Menjadikan fungsi Laboratorium Budaya, agenda rutin pelaksanaan Daurah Ramadhan (pesantren kilat), yang diperuntukkan bagi anak didik generasi pemula dan agenda tersebut telah berlangsung selama 4 tahun.

Hadirnya program kegiatan untuk mengadakan kebersihan kamar mandi atas keberadaan Masjid dan Mushala serta Dayah/Pesantren, telah berjalan sejak Mei 2023.

Dalam keberadaannya sebagai sebuah Museum, Ketua Umum Dewan Pengurus itu menerangkan bahwa Yayasan Museum juga telah mendirikan Sekolah Taman kanak-Kanak (TK), sejak tahun 2021, sehingga kegiatan sekolah sejak 4 tahun tersebut, kini siswanya semakin bertambah.

Prof. Dr. H. Ahmad Humam Hamid, MA yang secara kekerabatan, sebagai cucu luar dari Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, putra dari Ayah Hamid Samalanga, yang menikahi Fitri Marzuki, menyampaikan cacatan dari sebuah sejarah besar, sebagai pandangannya yang lahir dari kajian dan referensi sejarah.

Museum Kota Juang Bireuen hadir sebagai ‘lemari ingatan’ atas sejarah Bireuen dimasa lalu, yang diperankan oleh seorang imigran dari Turky, yang lahir di Turky namun menjalani hidup dan berkarya untuk peradaban kehidupan Bireuen.

Beliau, dengan tampak kesan pemikiran akademisnya, walau beliau ingin tampil dalam paparan secara alamiah saja, namun selalu sangat bermakna bagi penulis karena narasinya mengandung inspirasi serta membuat kita untuk berfikir.

Dalam pemikiran beliau, yang dapat dibuktikan secara data atas fakta yang ada, bahwa para tokoh-tokoh terhebat yang hadir sebagai pejuang dalam menghantarkan peradaban terbaik untuk Bireuen, dominan mereka tercatat sebagai para tokoh yang berasal dari luar atau imigran.

‘Bukti sejarah hebat Bireuen dimasa lampau, sejak dari keberadaan Kerajaan Jeumpa awalnya dikenal sebagai Kerajaan hindu, berubah menjadi Kerajaan Islam dan jaya dimasanya, merupakan peran dan karya dari seorang Imigran, Syahriansyah Salman Al-Parsi, sebagai pendatang dari Parsia.

Demikian juga dengan tokoh Habib Bugak yang menorehkan karya terbaiknya hingga sekarang dinikmati orang rakyat Aceh kala berada di Mekkah, adalah pendatang dari Arab. Tengku Awe Geutah, sosok pendatang dari Arab yang selanjutnya bermukim guna mengembangkan dakwahnya.

Kini Awe Geutah masyhur dengan pesantrennya, sesuatu yang sangat bermakna bagi Aceh secara global’.

Sang Sosiolog yang mengabdi di USK Banda Aceh, Ahmad Humam Hamid, kembali menyatakan bahwa sosok mantan Bupati Bireuen H. Saifannur, dan juga Bupati sekarang H. Mukhlis, ST, merupakan cucu dari kakek mereka sebagai pendatang dari Yaman, menetap hidup serta menyatu utuh dengan Bireuen, yang kini hadir berkarya untuk membangun peradaban Bireuen.

Pernyataan tersebut memberi kesimpulan bahwa karya yang besar dan hebat dalam kehidupan, bukan ditentukan oleh keberadaan sosok karena hubungan status dan keberadaan, namun justeru karena kapasitas diri yang berkwalitas.

H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, merupakan cucu dari Salem Bey, salah seorang sosok yang berpengaruh dalam penentuan kebijakan di Kesultanan Ustmaniah Turky, yang berkedudukan di Istambul dengan menguasai territorial yang luas di antara benua Eropah dan Asia, sebuah Kesultanan yang tangguh dalam memerintah selama 6 abad lebih tanpa putus, sebelum kejatuhannya pada 1922.

Perpolitikan Turky yang memanas menjalang 3 tahun berubah peta kekuasaan perpolitikan, mendorong salah satu keluarga sebagai pewaris keluarga Salem Bey untuk hijrah ke Bireuen, yang menderat lewat pelabuhan Mon Keulayu, Peusangan Bireuen pada tahun 1919, yang disambut oleh pewaris Habib Bugak dan Habib Abubakar Awe Geutah.

Sebuah keputusan atas dasar pertimbangan sejarah diplomatik yang paling mesra antara Kesultanan Ustmaniah Turky dengan Kesultanan Aceh Darussalam, sejak abad ke-14.

Abu Bakar bin Ibrahim bin Salem Bey, yang tiba di Mon Keulayu, dan menetap sementara di Meuse Krueng Panjoe dalam keberadaan usianya di 32 tahun, tumbuh semakin dewasa dalam tempaan diri oleh pengetahuan dan peradaban kehidupan yang maju di Istambul Turky, yang setelah itu melangsungkan pernikahan dengan putri sepupunya sendiri.

Beliau terus menetap dan menyatu hidup dengan Bireuen, sehingga menjadi sosok warga dalam perannya sebagai pengusaha di Bireuen. Setelah menetap di Simpang Empat Bireuen pada tahun 1922, beliau menjadi tokoh yang sangat perduli dengan kemajuan peradaban Bireuen, dari lingkup peran sosial dan ekonomi, politik dan kemasyarakatan, hingga beliau dipercayakan memangku jabatan Wedana Bireuen.

Setelah 23 tahun hidup di Bireuen, yakni sebelum Indonesia merdeka, pada tahun 1942-1945. Inspirator berdirinya Museum Kota Juang Bireuen, yang kini duduk selaku Ketua Dewan Pembina, Hj. Noor Balqis menyampaikan sekelumit riwayat yang penuh inspiratif, bahwa

‘Dalam catatan sejarah, Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, bersahabat dekat dengan para tokoh, yang sukses menorehkan peran terbaik mereka dalam kehidupan politik dan kemasyarakatan untuk bangsa dan agama, dalam lingkup keberadaan Bireuen dan Aceh hingga diperhitungkan secara nasional kala itu, seperti Tgk. Muhammad Daud Beureueh, Tgk Abdul Wahab Seulimum, Ayah Abdul Ganie Usman, Ayah Abdul Hamid Samalanga, Tgk Abdurrahman Meunasah Meucap, Abu Hasan Meunasah Meucap, Ampon Chik Peusangan, Kolonel Huseen Joesuf, serta sejumlah tokoh lainnya dalam berbagai lini kehidupan’.

‘Sangat dimaklumi dan tercatat peran beliau dalam lingkup perpolitikan dan agama, sehingga berada sebagai salah seorang tokoh inspirator dan penyandang dana lahirnya PUSA (Persatuan Ulama Seluruh Aceh) di Yayasan Al Muslim Peusangan Bireuen pada tahun 1939.

Sesuai catatan dalam sejarah lanjutan keberadaan PUSA tersebut, sangat berpengaruh pada langkah strategi perpolitikan di Aceh dan terasa pada level nasional, penjaga kemartabatan Aceh sebagai bumi Serambi Mekkah hingga pengawal atas kemerdekaan Republik Indonesia’.

‘Peran beliau dalam dunia pendidikan hadir dengan utuh, duduk selaku Ketua Dewan Penyantun atas keberadaan berdirinya Normal Islamic Institut atau Normal Scholl, yang sangat bersejarah di Simpang Empat Bireuen pada tahun 1939.

Dalam peran mendidik dan melahirkan anak bangsa yang berkarakter. Rumah beliau yang berada di Simpang Empat Bireuen, sebagiannya menjadi asrama untuk para dewan guru dalam kiprah mereka menghadirkan pendidikan terbaik kala itu, hingga tercatat dalam sejarah atas keberadaan para alumni yang hebat dari Normal Islamic Institut atau Normal Scholl Bireuen, dengan lahirnya sejumlah tokoh pada lingkup Aceh dan Nasional dari alumninya.

Tokoh terkenal, seperti almarhum Hasan di Tiro, Tgk. AR. Hasyimi, Profesor Ismuha, Profesor Ilyas Ismail, Profesor Nazaruddin Syamsuddin, Kolonel Hasballah Haji, Kolonel Hasan Saleh, dan lainnya’.

Beliau tercatat sebagai donator dalam pertempuran Krueng Panjoe Bireuen, sebuah perang yang menggelegar di area yang paling memorial bagi beliau, sebagai kampung perdana beliau berada kala kedatangannya dari Turky, sebuah peperangan kaum pejuang Bumi Putera untuk menghalau penjajahan Jepang, dalam rangka mempertahankan harga diri dan kemartabatan Bireuen dalam kemerdekaan Republik Indonesia.

Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, juga tercatat dalam perannya selaku pengsuplay dana untuk kebutuhan akomodasi para prajurit dalam pertempuran Medan Area di Sumatera Utara, yang diberangkatkan dari markasnya di Juli Bireuen .

Pada awal kemerdekaan, menjadi pertimbangan lanjutan atas keberadaan asrama Yonif 111 yang berada di sekitaran Meuligo (Pendopo) Bireuen, belakangan dipindahkan ke Juli Bireuen dengan nomenklatur identitasnya sebagai Yonif 113.

Dalam keberadaan keluarga, beliau hanya melahirkan satu putra semata wayang, Marzuki bin Abubakar, yang didik dengan baik dalam pendidikan formal dan informal, hingga berkesempatan menimba ilmu di Jakarta, dan diangkat sebagai Wedana Bireuen pertama paska kemerdekaan, berlanjut bertugas di Kementrian Dalam dan Luar Negeri di Jakarta, dan berakhir sebagai angota DPR Aceh.

Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, sosok yang hadir sebagai inspirator bagi seorang cucu perempuan, Noor Balqis Marzuki, sejak dia masih dalam keberadaan sebagai bocah cilik di tahun 1953, yang telah hidup bersama beliau sejak usia 4 tahun. Keberadaan tersebut telah menjadikan cucunya melekat sebagai pemilik karakter pejuang kemanusiaan, menjadikannya sebagai politisi, hingga berkesempatan duduk sebagai anggota DPR/MPR RI, periode 1999-1924, yang menjadi inisiator dan penentu kebijakan berdirinya Museum Kota Juang Bireuen, dan duduk selaku Ketua Pembina dari Yayasan Museum Kota Juang Bireuen.

Kehadiran Museum Kota Juang Bireuen, pada esensinya dalam rangka menjaga sejarah peradaban Bireuen, dari seorang Abu Bakar bin Ibrahim bin Salem Bey, yang telah seluruh keberadaan hidupnya berjuang dalam menjaga kemartabatan Bireuen, yang dikenal sebagai Kota Juang. Maka Museum ini, bukan berbicara tentang lingkup emosional keluarga dari beliau, namun jauh dari itu, yakni berbicara tentang sejarah Bireuen di awal kemerdekaan.

Beliau adalah sosok yang menjaga kebutuhan Presiden Soekarno kala bermalam di Meuligo (Pendopo) Bireuen pada tahun 1948, atas permintaan Kolonel Huseen Yusuf, sosok kala bercengkrama dan pernah memeluk pundak Presiden Soekarno, sosok yang menghadiahkan kemaja kebesaran untuk Soekarno, yang dijahit di Bireuen.

Semua sejarah hebat untuk Bireuen kala itu, ingin kita hadirkan guna dipahami oleh anak cucu kita sekarang dan akan datang, maka Museum ini menjadi momentum dalam tujuan tersebut. Museum Kota Juang Bireuen ini, tak akan mampu menjaga dan melestarikan sejarah hebat tersebut, jika pemerintah tidak ikut serta melangkah bersama Yayasan Museum yang telah dibentuk untuk tujuan tersebut.

Wakil Bupati Bireuen, Ir. H. Razuardi, MT hadir dan menyampaikan sambutan, sebelum seluruh rangkaian acara Milad dan Halal Bi Halal berakhir. Beliau mengawali penyampaian titipan salam dari Bapak Bupati H. Mukhlis, ST, yang berhalangan hadir karena padatnya rangkaian acara yang harus beliau laksanakan di Meuligo (Pendopo) Bireuen dalam waktu yang sama.

Penghargaan yang sangat mendalam, disampaikan oleh Wakil Bupati Bireuen untuk para ahli waris dari Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey selaku pejuang dan mantan Wedana Bireuen tahun 1942-1945, untuk seluruh Dewan yang duduk dalam Kepengurusan Yayasan Museum, khususnya untuk Hj. Noor Balqis Marzuki selaku mantan anggota DPR/MPR RI tahun 1999-1924, yang tampil sebagai inspirator dan inisiator utama dalam meletakkan keberadaan Museum Kota Juang Bireuen, sebagai museum perdana di Bireuen..

Mengsetir sambutan Ahmad Humam Hamid, Wakil Bupati Bireuen berharap agar Dewan Pengurus Yayasan Museum, dapat terus berkarya dengan laju pengembangan program dalam peran keberadaan Museum, melangkah sama dengan pemerintah sehingga keberadaan Museum sebagai lemari ingatan bagi masyarakat atas kehebatan Bireuen dimasa lalu, dapat dihadirkan dari Museum Kota Juang Bireuen.

Untuk menguatkan kehidupan generasi muda Bireuen ke depan, kehadiran Museum Kota Juang Bireuen, menjadi asset kehidupan bagi Bireuen, yang kita harapkan dimasa depan, dapat hadir sebagai tempat atas pelaksanaan kajian-kajian dan standart kebudayaan serta adat istiadat .

Bireuen data kebudayaan serta adat istiadat Bireuen yang originali, yang sekarang telah banyak hilang dan tak dipahami oleh masyarakat, dapat kembali dikaji dan di standarkan dalam peran bahasannya dilaksanakan oleh Museum sebagai lemari ingatan’.

‘Sejarah hebat atas serangkaian kisah dimasa lalu, termasuk perihal pertempuran seperti pertempuran Krueng Panjoe, peninggalan Gua Jepang dan karya monumental lainnya dapat digali dan dibukukan oleh Museum Kota Juang Bireuen’. ucap Wakil Bupati Bireuen,Ir Razuardi, MT.

Menutup serangkaian acara, Budayawan Bireuen Syarifuddin Sabon anggota dalam kepengurusan Majelis Adat Aceh (MAA) Kabupaten Bireuen, tampil memukau dalam menarasikan syair-syair indahnya dengan generasi seni tutur masyarakat Aceh, yang dikenal dengan PMTOH, serta kumandang Qalam Ilahy yang dilantunkan dengan sangat lembut dan syahdu, oleh Muzammil Hasballah, ST, sebagai qari dan muazzin nasional, yang hadir dari Bandung.

Mahyani Muhammad menyampaikan bahwa sejarah atas peran Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey yang penuh heroik untuk Bireuen, telah terdokumentasi dalam buku H. Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, Nek Haji Sang Maestro, yang dihadirkan sebelumnya, dalam peran keterikatan diri penulis sebagai putera kelahiran Bireuen yang telah 40 tahun menetap di Medan Sumatera Utara.

Kini ,melangkah bersama Matriarch (ibu pemimpin keluarga) Hj. Noor Balqis membangun Bireuen.

Penulis menghadirkan buku sejarah Bireuen yang materi keberadaan sang maestronya dalam 400 halaman, berupaya tersajikan dalam narasi yang apik, menjadi sejarah terbarukan yang akan terinspirasi bagi kaum muda sebagai generasi Bireuen ke depan, yang diterbitkan pada tahun 2021 dengan ISBN978-623-96483-0-5,bersamaan dengan peresmian berdirinya Museum Kota Juang Bireuen.

Mengutip narasi akhir yang tertuang dalam buku tersebut, adalah :

‘Ketika kapal layar milik putra Salem Bey, yang memecah gelombang ombak di samudra lepas kala menghantarkan Abubakar bin Ibrahim ke Bireuen (1919) telah punah rangkanya, namun Bireuen terus berlayar pada serpihan jejak-jejak berlalu, dalam upaya memetik peradaban kehidupan terbarukan dari benih-benih yang telah disemai dengan peran terbaik mereka-mereka di masa lalu’.

‘Sebuah peradaban kehidupan dibangun oleh mereka-mereka yang dipandang ksatria sebagai kaum pemikir, kaum elit dan kaum suci dalam berbagai bidang dengan kapasitasnya, namun pada sisi lain, yang meruntuhkannya juga mereka-mereka yang berada pada lingkup tersebut.

 

Maka kunci utamanya adalah melangkah dalam keberadaan karakter yang shiddiq, amanah, tabligh dan fatanah serta dengan nuansa dream, inspire, courage dan harmoni antar sesama, serta selalu berpijak dalam bingkai azas keridhaan-Nya’.

Peran Abubakar bin Ibrahim bin Salem Bey, tak mungkin dihapuskan dalam catatan sejarah kebaradaan peradaban Bireuen dimasa lalu,

justru telah diakui dan kini nama beliau diabadikan sebagai nama jalan, yang pada awalnya berada pada posisi jalan di depan terminal lama Bireuen yang panjang jalan sekitar 200 meter, berubah pada jalan elak kota Bireuen, yang berada sepanjang 2,8 Km, tepatnya dari simpang jalan geulanggang hingga simpang Cot Bada Bireuen, lewat Keputusan Pemerintahan Kabupaten Bireuen, kala dijabat oleh Dr. Aulia Sofyan selaku Pj. Bupati Bireuen.

Hj. Noor Balqis menyampaikan bahwa dalam Kepengurusan Museum Kota Juang Bireuen, posisi Bupati dan Ketua DPRK Bireuen, secara ex-offisio resmi duduk sebagai pelindung, maka secara politis kebijakan Bupati dan Ketua DPRK untuk setiap saat dinantikan, dalam rangka menjaga keberadaan Museum Kota Juang Bireuen, untuk kemartabatan Bireuen yang lebih hebat dimasa depan. (*)