MabesNews.com, Medan, Sumut.
Data Neraca Perdagangan Indonesia – Amerika Serikat.
Ekspor Indonesia ke Amerika Serikat (AS) mencapai : $26,31 miliar sedangkan Impor Indonesia dari AS: $9,47 miliar sehingga neraca perdagangan (surplus): $26,31 miliar – $9,47 miliar = $16,84 miliar berarti (surplus untuk Indonesia).
Pertanyaannya apakah menguntungkan ?
Jawaban singkat : Ya, secara nominal dan neraca perdagangan, posisi Indonesia menguntungkan.
Namun, secara kualitas perdagangan dan struktur ekspor-impor, posisi ini kurang ideal atau bahkan tidak sepenuhnya menguntungkan dalam jangka panjang.
Penjelasan Lebih Lanjut : 1. Keuntungan Nominal: Surplus Perdagangan. – Indonesia mengalami surplus $16,84 miliar, artinya kita menjual lebih banyak ke Amerika daripada yang kita beli.
•Ini baik untuk devisa negara, neraca berjalan, dan bisa memperkuat cadangan devisa serta nilai tukar.
2. Masalah Struktur: Indonesia Ekspor Bahan Mentah.- Sebagian besar ekspor Indonesia ke AS adalah bahan mentah atau komoditas rendah nilai tambah (misalnya karet, tekstil, minyak sawit, furniture dasar).
– Artinya, nilai jual per unit rendah dan mudah tergantikan oleh negara lain (kompetisi tinggi, margin tipis).-Ketergantungan pada ekspor bahan mentah juga rawan fluktuasi harga global.
3. AS Ekspor Produk Premium ke Indonesia
• Sebaliknya, Amerika mengekspor produk premium atau bernilai tinggi, seperti : Mesin dan teknologi, Produk farmasi & medis, Pesawat terbang (misalnya Boeing) dan Produk pertanian berteknologi tinggi (kedelai GMO, jagung, dll.)
•Ini berarti kita membayar mahal untuk barang-barang berkualitas dan berteknologi tinggi.-Value per unit tinggi, margin keuntungan mereka juga tinggi.
📉 Kesimpulan Strategis:
* Menguntungkan dalam jangka pendek (dari sisi neraca perdagangan) • Kurang menguntungkan dalam jangka panjang (dari sisi struktur dan nilai tambah)
Rekomendasi Strategis untuk Indonesia :
Naik kelas ekspor : Dorong ekspor produk bernilai tambah tinggi seperti :
•Produk olahan pertanian (kopi, coklat, herbal dalam bentuk siap konsumsi)
•Manufaktur ringan (elektronik, komponen kendaraan, smart furniture)
* Produk budaya bernilai tinggi (batik premium, kerajinan, desain khas Indonesia)
Manfaatkan diaspora & tren AS :
* Komunitas Indonesia di AS bisa dijadikan mitra pemasaran
• Tren konsumen AS sekarang suka produk sustainable, natural, ethical trade
• Posisi Indonesia bisa diperkuat melalui branding dan storytelling produk
Kembangkan industri substitusi impor :
* Bangun industri dalam negeri yang mampu menggantikan barang-barang premium dari AS
. Misalnya di bidang farmasi herbal, teknologi tepat guna, dan industri kreatif
Catatan : • Tulisan saya diatas berdasarkan catatan pengalaman sebagai pengawas ekspor, masa kecil pernah di Amerika Serikat dan hasil diskusi dengan Chat GPT.
(Khairul Mahalli adalah Ketua Umum GPEI)
Editor : bay.