Etu Dalam Perspektif Kearifan Lokal Masyarakat Adat Kawa Nagekeo Yang Perlu Dijaga serta Dilestarikan

MabesNews.com, Nagekeo – Tradisi tinju adat menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari budaya kearifan Lokal yang terus di jaga dan dilestarikan di Tanah Nagekeo Flores.

Aktivitas tinju yang merupahkan pertunjukan olaraga tradisional menjadi ” ikon tersendiri bagi pecinta Boxing di Ring Tinju Adat. Selasa 27/08/2024

Salah satu tradisi dan warisan budaya masyarakat dari kabupaten Nagekeo NTT yakni ” Etu yang berada di ” kampung Kawa Lambo Nagekeo.

Kegiatan ini merupahkan ritual yang terus berkesinambungan dilakukan, serta sebagai ungkapan syukur atas panen dan terus dilestarikan oleh masyarat adat setempat, mengingat Kampung Adat Kawa merupahkan Kampung Wisata Nagekeo.

Ritual etu ini biasanya dilaksanakan ditempat terbuka dan dihadiri oleh orang -orang berbagai kampung. Petarung biasanya berasal dari berbagai kampung yang memiliki keakhlian untuk bertinju. Pembukaan tinju adat dewasa dimulai pada Senin 26/08/2024 pukul 09 : 30 Wita

Boxing tradisonal ini biasanya diikuti oleh anak-muda yang mencari jati diri, biasanya seorang petarung sebelum bertarung memohon pertolongan Tuhan dan Leluhur. Ritual ini biasanya dilakukan di musim panas khususnya dibulan Juli dan Agustus.

Kegiatan utama termasuk upacara bakar Nasi Bambu ( Kose). Kose ini termasuk dalam rangkaian adat yang tidak terpisahkan dari Etu. Ritual Etu biasanya dilakukan dalam dua tahap yakni, tinju anak – anak pada hari pertama dan tinju besar atau tinju dewasa pada hari kedua.

Peralatan yang digunakan terbuat dari bahan alami dari ranting kelapa, dan petarung menggunakan kain tenun motif Nagekeo. Pertandingan dipimpin oleh dua orang wasit atau dalam bahasa setempat disebut (Seka) dan dua lagi disebut “Sipe dan diiringi oleh Gong Gendang. (Go Laba)

Sebelum menuju Hari – H) Tinju biasanya malam hari ada aktivitas “Teke Dhegha dimana masyarakat berkumpul mengelilingi api unggul untuk menari dan dipimpin oleh seorang pemimpin untuk ” Enga Pata. Atau sebagai pemandu.

Ditempat terpisah seorang toko masyarakat adat Kawa Nagekeo ” Banus Papu mengatakan kegiatan ini memang sangat sakral dan penuh Makna serta nilai kebesarannya.

Kampung adat ini sudah ada sejak ratusan tahun yang lalu dan sudah tiga kali pindah tempat. Kampung adat Kawa yang ada saat ini adalah kapung adat yang pindah dari kampung sebelumnya yang oleh masyarakat setempat menamai “Bo,a Olo.

Kampung adat yang ada saat ini berdiri sejak tahun 1958, dengan 16 buah rumah adat, namun sampai saat ini masih tersisah 13 buah rumah dan sampai sekarang masih ada dan tetap eksis serta corak rumah adat yang masih alamia dan unik.

Mantan Kades Labolewa ini menjelaskan bahwa ” Ritual Etu dan Kose ini adalah bagian dari penghormatan kepada leluhur dan Tuhan dipandang sebagai sesuatu yang sakral oleh masyarakat adat Kawa, makanya kami tetap menjaga serta melaksanakan ritual ini disetiap tahun. “Ungkapnya.

Menurut Ardus Ladu toko mudah Kawa menjelaskan bahwa Tinju adat Kawa ini sudah lama eksis, bukan hanya Etu yang unik tapi ada bangunan rumah adat yang masih Natural, banyak Tamu Lokal maupun Tamu Manca Negara selalu berkunjung kesini hanya tamu kadang mengeluh karena jalan rusak. kami masih mengharapkan ke Pemda Nagekeo untuk bisa Memperhatikan Jalan menuju Kampung Adat Kawa, sebab akses ke Kampung ini masih sedikit terputus, ( – + ) 3 KM. “Imbuhnya.

Dalam pantauan awak media MabesNews.com kegiatan ini sangat ramai serta antusias penuh oleh penonton, semuaya berjalan dengan baik dan lancar sampai di akhir kegiatan.

 

Penulis ” Loka Bo,a 08